Menanti Kejutan Liverpool

Jurgen Klopp. (Foto: liverpoolfc.com)

23/12/2018 459

LABRITA.ID - Banyak yang kagum dengan Manchester City di bawah racikan Joseph Guardiola. Tiki-taka versi Inggris terlihat mendominasi di setiap laga yang dimainkan The Citizen. City sering menang dan mencetak banyak gol. Di akhir musim 2017/18, City berhasil melampaui 100 poin.

Musim 2018/19, beberapa pandit sepakbola pun memprediksi EPL akan didominasi oleh tetangga berisik MU ini. Beberapa indikasinya adalah kedatangan Riyadh Mahrez melengkapi pasukan mahal City. Eks pemain Leicester City ini datang sebagai alternatif dan penekan konsistensi Leroy Sane dan Raheem Sterling.

Selain itu, semakin kompaknya City karena tidak ada pemain dari tim utama yang pindah atau pensiun. Pemain City hanya perlu beradaptasi dengan tak-tik Guardiola untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan.

Musim 2017/18, City hanya kalah 2 kali yaitu oleh Liverpool di Anfield dan MU di kandang City. Pada musim 2018/19, City menahan imbang Liverpool di Anfield dan menaklukkan MU di kandangnya sendiri. Peningkatan yang signifikan.

Mantan pemain Liverpool Jamie Carragher menyebut dominasi era City versi Pep di EPL akan seperti era Alex Ferguson di MU. Carragher juga merujuk pada dominannya Pep Guardiola di Spanyol maupun Jerman sebelumnya.


Banyak yang memprediksi City akan terus memimpin hingga akhir kompetisi. Juara sudah muncul sejak awal kompetisi. Tiba-tiba Chelsea mengamuk dan City kalah 2-0 di Stamford Bridge. Di luar dugaan banyak orang.

Liverpool yang setia mengikuti Manchester City, memanfaatkan momentum dan naik jadi pemuncak klasemen. Sebuah kebetulan dan City sedang sial. Sampai Liverpool menghajar MU dengan telak 3-1. Liverpool melakukan tembakan ke gawang mencapai 36 kali dan MU hanya 6 kali. Level yang berbeda kata Gary Neville. Mourinho dipecat dan semua mengamati Liverpool.

Fenway Sport Grup melakukan revolusi klub diawali pergantian Brendan Rodgers dengan Juergen Klopp. Bukan pelatih top yang populer. Namun Ferguson menyalakan tanda bahaya karena Klopp pelatih yang mampu membangun antusias klub dengan baik.


Klub Merseyside ini membeli pemain dengan efektif, sesuai dengan gaya main yang dikembangkan Klopp. Gaya Geggenpressing merupakan andalan mantan pelatih Dortmund dan Mainz ini. Mane, Salah, Wijnaldum, dan Robertson merupakan gelombang awal kedatangan pemain baru Liverpool.

Klopp pun menaikkan status Trent Alexander Arnold dari pemain akademi menjadi pemain utama di usia 19 tahun. Pesan yang bagus untuk pemain muda. Pesan kuat untuk klub lainnya adalah The Reds membeli van Dijk dan menjadikannya bek termahal hingga kini.
Permainan Liverpool menggelora seperti semangat pelatihnya yang ekspresif.

Klopp pernah berlari dari bench untuk merayakan gol bersama pemain di pinggir lapangan. Liverpool pun masuk final Liga Champions. Semua terkesima. Sayangnya raihan itu ternodai oleh kekalahan dari Real Madrid 3-1.

Kloppo kalem tetapi tetap lucu menjawab semua pertanyaan. Datanglah rombongan pemain terbaru, Fabinho, Naby Keita, Alisson Becker, dan Shaqiri. Klopp lebih ekspresif merayakan gol dengan pemainnya di tengah lapangan sebelum akhir pertandingan.

Penghuni Anfield ini naik ke puncak karena belum terkalahkan di pekan 18. Para pandit berkomentar tentang klub abadi Steven Gerrard ini. Ini kebangkitan nyata Liverpool di bawah pemilik baru John W Henry.

Kini yang perlu ditunggu oleh pendukung Liverpool, kapan trophy liga Inggris dipersembahkan oleh Juergen Klopp. |*/rzl