Senjakala Becak di Kendari, Hidup Segan Mati Tak Mau

Bacak yang parkir di salah satu pasar di Kendari. (Foto: Didul Interisti/Labrita.Id)

09/04/2019 307

LABRITA.ID - Saat masih menjamur, becak dengan mudah ditemui di Kendari. Perempatan Jalan MT Haryono-La Ode Hadi, Pasar Wuawua, Pasar Anduonohu, Pasar Mandonga (sekarang Mal Mandonga), dan Pasar Sentral Kendari merupakan beberapa titik kendaraan roda tiga ini biasa menunggu penumpang.

Pemandangan tersebut dapat dilihat sampai awal tahun 2000-an. Namun, di masa itu pula pasaran becak mulai terusik dengan semakin menjamurnya ojek.

"Penumpang ramai itu sekitar tahun 2000-an, sebelum banyak ojek di Kendari," kisah Rusli (47), tukang becak yang biasa beroperasi di sekitar Pelabuhan Nusantara Kendari, Minggu (9/3/2019).

Kini becak mulai sulit ditemukan di berbagai tempatnya mangkal saat 20 tahun lalu itu. Satu dua becak hanya terlihat di Pasar Sentral Kendari, belakang Mal Mandonga, dan Pasar Anduonohu.

Rusli mengaku kini penghasilan tukang becak tak seberapa. Namun ia sendiri tetap menjalankan jasanya itu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

"Paling banyak penghasilan saya sekitar Rp 50.000 per hari. Itupun tidak cukup untuk keperluan rumah tangga," akunya saat ditemui Labrita.Id.

Dengan semakin banyaknya alternatif transportasi jarak dekat, peminat becak diakui Rusli memang sangat jauh berkurang.

"Kalau sekarang penumpang dalam sehari tidak menentu, kadang dua orang atau tiga orang. Biasanya paling banyak penumpang becak itu pada hari Minggu atau libur nasional," terangnya.

Selain kurang peminat, ayah dua anak ini juga mengaku tarif becak juga terbilang murah dan sewanya disesuaikan jarak tempuh.

"Meskipun tarifnya sudah dibilang murah, tapi tetap saja ada penumpang yang membayar kurang. Hanya mau diapa, hanya bisa bersabar saja," kata Rusli.

Padahal, Rusli mengaku saat mengayuh becak untuk mengantar penumpang cukup menguras tenaga.

"Menarik becak itu melelahkan. Badan pegal-pegal, kadang sakit belakang, sakit tangan, sakit betis, kepanasan," keluhnya.

Di beberapa momen, becak kadang terlihat disentuh oleh masyarakat umum ataupun para politisi. Digunakan dalam acara pawai, karnaval ataupun semacamnya.

"Biasanya juga bulan puasa ada yang menyumbang sembako. Tahun lalu saya pernah dapat gula dan beras. Kadang juga hari Jumat ada yang kasih nasi bungkus," ungkapnya.

Efisiensi waktu menjadi alasan penumpang memilih transportasi selain becak.

"Naik ojek lebih cepat kita sampai di rumah kalau habis belanja di pasar," terang Ida kepada Labrita.Id di Pasar Anduonohu, Minggu (17/3/2019) pagi.

Meski begitu, menarik becak harus tetap dijalankan Rusli karena ada tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun harus memikirkan biaya pendidikan dua anaknya di kelas 6 dan 1 sekolah dasar. Selain itu, ia juga masih harus memikirkan setoran becak.

"Sehari itu harus bisa dapat minimal Rp 15.000 untuk bisa makan. Tambah setoran becak Rp 10.000 per hari. Jadi untuk mendapatkan Rp 50.000 itu harus maksimal bawa becak dari pagi sampai malam," tuturnya,

Dengan kondisi seperti itu, Rusli berharap ada perhatian dari pihak terkait menyangkut nasib mereka.

Demikianlah becak di Kendari yang mulai pudar diingatan masyarakat. Munculnya berbagai jenis transportasi baru menggeser eksistensi mereka di Kota Lulo. Di ujung kiprahnya, becak kini di ibu kota Sulawesi Tenggara ini ibarat memasuki fase hidup segan, mati tak mau.

Laporan: Sitti Herni dan Didul Interisti