Nasib Suara Musik Bambu Sultra pada Era Kekinian
Musik Bambu Sultra yang Dimainkan Siswa Sekolah Dasar. (Foto: Labrita.Id)
LABRITA.ID - Pada era tahun 90-an ke bawah, musik bambu populer di wilayah daratan Sulawesi Tenggara (Sultra). Jenjang sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama banyak yang memiliki grup musik bambu. Tak jarang mereka tampil di berbagai kegiatan maupun lomba musik bambu.
Pada tahun 2000-an ke atas, grup musik bambu di sekolah-sekolah mulai tak tampak lagi. Hanya ada satu dua sekolah yang masih melatih para siswanya. Alat musik yang disebut Baasi dalam bahasa Tolaki ini mulai terganti dengan musik modern di sekolah-sekolah. Di kalangan orang dewasa bahkan tak lagi dijumpai alat musik ini dimainkan.
Baca Juga: Nasib Ojek Pangkalan Dipepet Ojol di Kendari
Jumadil, salah satu pelatih musik bambu di Sulawesi Tenggara mengatakan Baasi pada masa lalu dimainkan orang dewasa saat pesta panen maupun acara lainnya. Dalam perkembangannya, musik yang dimainkan secara berkelompok ini mulai dikembangkan dengan mendendangkan lagu nasional dan umum. Namun, pada perkembangannya tersebut musik bambu tak lagi digeluti orang dewasa, hanya anak sekolah dasar dan menengah pertama yang memainkannya.
Menurut pria yang telah menjadi pelatih musik bambu sejak 1988, saat ini musik bambu hanya dimainkan pada acara seremonial. Beberapa sekolah yang kebetulan dilatihnya pun hanya menjadikan musik bambu sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Sebab, memang permainan alat musik ini tak masuk dalam kurikulum.
Baca Juga: Senjakala Becak di Kendari, Hidup Segan Mati Tak Mau
Mulai redupnya kesenian khas daratan Sulawesi Tenggara ini turut disesalkan pria kelahiran Kendari tahun 1961 ini. Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkrit untuk melestarikan musik tradisional ini.
"Di sekolah ini kan ada (pelajaran) Muatan Lokal (Mulok). Musik bambu bisa dimasukkan di sana. Selain sebagai pelestarian terhadap kesenian tradisonal, hal ini juga bisa menjadi ajang kreativitas bagi para siswa," tandasnya. (il-02)