Guru dan Siswa di Abad 21

ilustrasi. (Foto:youthmanual)

26/04/2019 374

Oleh : Marniati Murtaba, S.Pd.
Guru SMA Negeri 2 Lambandia

LABRITA.ID - Dunia kini telah memasuki era digital yang perkembangannya tidak dapat dibendung. Sebagaimana yang dikatakan para ahli bahwa kini kita berada di era revolusi industri gelombang keempat yang juga disebut industry 4,0. Perkembangan dunia digital tak terkecuali dinikmati pula oleh masyarakat Indonesia. Tentunya, masyarakat Indonesia tidak hanya sekedar menikmati tahap demi tahap perkembangan ‘bahkan dapat dikatakan kemajuan’ teknologi tersebut. Masyarakat Indonesia harus bisa mengambil peran aktif dalam pemanfaatan teknologi tersebut. Teknologi digital sudah menjadi sebuah keniscayaan. Penguasaannya adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Semua masyarakat, pada semua lapisan, diupayakan bisa menguasai teknologi digital.

Keadaan ini tentu tidak mudah. Keadaan setiap masyarakat tidak sama. Masyarakat perkotaan tentu akan lebih mudah mendapat akses ini baik dari segi ketersediaan media maupun ilmu untuk memanfaatkan media tersebut. Masyarakat kota bisa lebih cepat menerima akses. Namun, akan sangat berbeda dengan masyarakat desa bahkan pelosok desa. Masyarakat di desa, pelosok atau bahkan pedalaman belum bisa sepenuhnya menguasai teknologi digital. Jangankan teknologi digital, pemanfaatan alat elektronik sederhana seperti televisi atau radio terlambat mereka nikmati. Bahkan, ada daerah yang belum lama bisa menikmati aliran listrik.

Fenomena ini tentu tidak lepas dari program pemerintah. Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi kenyataan ini. Pemerintah mengusahakan agar era kemajuan digital ini bisa dinikmati oleh seluruh masayarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Salah satunya adalah target Pemerintah agar Indonesia menjadi masyarakat informasi dengan ukuran terhubungnya seluruh desa dalam jaringan teknologi komunikasi dan informasi pada tahun 2015. 

Deskripsi di atas tentu berimplikasi terhadap dunia pendidikan. Pendidikan sebagai sarana untuk mencerdaskan anak bangsa. Lembaga pendidikan menjadi tulang punggung untuk melahirkan generasi tangguh. Di sinilah diharapkan lahir guru yang mampu menjembatani semua keadaan ini. Guru harus mampu menjembatani siswa untuk menjadi guru dan siswa di abad 21. Guru dan siswa abad 21 adalah guru yang memiliki karakter.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai regulasi termasuk pembiayaan dengan tujuan agar guru bisa meningkatkan kapasitas diri dalam hal penguasaan teknologi digital. Contoh sederhana, pemberian tunjangan sertifikasi guru dengan salah satu harapan, guru mampu membeli peralatan teknologi yang mampu menunjang tugasnya. Contoh lain pemberlakuan kurikulum 2013 yang muatannya di anataranya adalah generasi melek digital melalui program literasi digital. Untuk peningkatan kapasitas diri, yang terbaru adalah Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan dengan menggunakan sistem pembelajaran dalam jaringan. Sistem ini  sangat efektif memacu semangat guru untuk mempelajari dan menguasai digital. Dengan keadaan ini, perlahan tapi pasti, akan muncul guru-guru yang mampu memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran di kelas.

Konsekuensi dari penguasaan teknologi digital sejalan dengan karakteristik guru abad 21. Sebagaimana tertulis dalam Modul Pedagogik PPG Dalam Jabatan 2018, ada lima karakteristik guru abad 21 , pertama guru di samping sebagai fasilitator juga harus menjadi motivator dan inspirator. Kedua, mampu mentransformasikan diri dalam era pedagogi siber atau era digital yang ditandai tingginya minat baca. Ketiga, memiliki kemampuan menulis. Keempat, kreatif dan inovatif dalam mengembangkan metode belajar atau mencari pemecahan masalah-masalah belajar. Kelima, mampu melakukan transformasi cultural. 

Mengacu pada lima karakteristik guru abad 21 ini, setiap diri guru diharapkan memiliki karakter ini. Tentunya, ini tidak mudah. Kondisi yang terjadi di lapangan, belum semua guru mampu mewujudkan lima karakter ini. Masih ada sekolah yang menganggap pembaruan kurikulum sebagai sesuatu yang tidak ada efeknya. Apa yang diterapkan masih seputar metode lama. Bahkan, masih ada pembelajaran yang berpusat pada guru. Apalagi, bagi sekolah yang jauh dari pengawasan dan pusat kota. Tidak dapat dipungkiri, bagi lembaga pendidikan di daerah ini, masih terdapat guru yang masuk kategori digital imigran. Jangankan menggunakan jaringan internet, menghidupkan dan mematikan laptop pun masih menjadi sesuatu yang berat. Dengan kondisi ini, guru belum bisa berada pada karakteristik yang kedua. Apalagi, ditambah dengan mindset guru yang masih menganggap siswa sebagai objek yang kepadanya ditujukan segala jenis aturan yang harus dipatuhinya. Siswa harus bisa memahami apa keinginan gurunya. Guru belum sepeuhnya bisa menjadi fasilitator, motivator apalagi inspirator. Guru lebih banyak menjadi evaluator.

Inilah kondisi riil pada sebagian lingkungan pendidikan. Masih banyak guru yang masuk dalam kategori digital imigran dan sebagian besar mereka berstatus Pegawai Negeri Sipil. Apalagi, pada tahun 2018, wajib pemberlakuan kurikulum 2013. Di dalam kurikulum 2013, menuntut peran aktif siswa (student center). Ini akan sangat mudah bagi guru yang menguasai digital. Tugas guru hanya merancang pembelajaran yang inovatif dan menarik. Oleh karena itu, dinas terkait tidak melepaskan diri begitu saja. Kewajiban memiliki laptop menjadi satu target utama. Di samping itu, adanya pelatihan-pelatihan di bidang TIK yang berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan guru dalam mengoperasikan komputer. Yang jauh lebih penting dari semuanya adalah kemauan kuat dari dalam diri sang guru untuk mengupgrade pengetahuan digital melalui belajar otodidak dan sejenisnya. Kemauan kuat ini akan mendorong guru untuk mau belajar dan terus belajar menguasai teknologi kominikasi dan informasi. Jadi, guru bisa menjadi perpanjangan tangan kemajuan dunia di bidang digital. Gurulah yang memperkenalkan kepada anak-anak pelosok tentang digital dan peralatannya.

Jika semua guru terus berusaha meningkatkan kapasitsa diri sesuai karakteristik guru, maka akan lahir siswa-siswa yang memiliki tiga keahlian seperti yang telah disampaikan. Bangsa ini tidak ingin generasinya terlindas oleh kemajuan teknologi terlebih teknologi digital. Bangsa kita berusaha sejajar dengan bangsa lain. Jika dulu ada istilah “Buku adalah jendela dunia”, maka saat ini ditingkatkan dengan “digital menembus batas ruang dan waktu”. Semua keadaan ini, lembaga pendidikanlah yang punya kedudukan strategis untuk mewujudkannya.

Tantangan selanjutnya setelah menguasai teknologi digital adalah mendampingi agar penggunaan teknologi digital tetap pada koridor yang benar. Teknologi digital tidak dimanfaatkan untuk mengakses konten-konten yang tidak benar, misalnya pornografi, konten bernuansa memecah belah SARA, jaringan narkoba, dan sebgainya. Penggunaan teknologi digital harus benar-benar dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran. Teknologi digital untuk meningkatkan pengetahuan diri, membuka wawasan tentang belahan dunia lain, mengenal kemajuan dunia, dan sebagainya. Jika penggunaan teknologi digital sesuai dengan  panduan ini, maka akan terwujud siswa yang memiliki karakteristik abad 21.

Karakteristik siswa abad 21 adalah perilaku belajarnya sangat tergantung atau bahkan menggantungkan diri pada mesin pencari google. Salah satu ahli (dalam Modul Pedagogik PPG Dalam Jabatan 2018) mengidentifikasi keterampilan dan kecakapan yang harus dimiliki generasi abad 21, yaitu :
1. Keterampilan belajar dan inovasi : berpikir kritis dan pemecahan masalah dalam komunikasi dan kreativitas kolaboratif dan inovatif.
2. Keahlian literasi digital : literasi media baru dan literasi ICT.
3. Kecakapan hidup dan karir : memiliki kemauan inisiatif yang fleksibel dan inisiatif adaptif , dan kecakapan diri secara sosial dalam interaksi antarbudaya, kecakapan kepemimpinan produktif dan akuntabel,  serta bertanggungjawab.

Berangkat dari pemaparan tersebut, maka profil guru ideal sesuai dengan karakteristik guru abad 21 adalah :
1. Memiliki keinginan kuat untuk mengupgrade diri terhadap perkembangan teknologi digital.
2. Memiliki keinginan kuat untuk menerapkan teknologi  digital dalam pembelajaran dengan niat untuk meningkatkan mutu pembelajaran serta menyesuaikan dengan kemajuan zaman yang semakin pesat.
3. Terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sehubungan dengan posisinya sebagai fasilitator, motivator dan inspirator. Keterbatasan sarana atau media teknologi informasi dan komunikasi tidak menjadi penghalang. Justru, terus berusaha agar masalah kesediaan alat bukanlah menjadi halangan.
4. Menunjukkan teladan yang baik di mana pun berada. Hal ini karena meyakini bahwa guru untuk digugu dan ditiru.
5. Melaksanakan program yang terdapat dalam Program Keprofesian Berkelanjutan, yakni pengembangan diri, misalnya aktif mengikuti kegiatan diklat fungsional dan kegiatan kolektif, melakukan publikasi ilmiah misalnya menulis artikel ilmiah yang berhubungan dengan pendidikan lalu dipublikasikan di media lokal maupun nasional, membuat buku teks pelajaran yang lolos BSNP, dan sebagainya dan karya inovatif, misalnya penemuan di bidang teknologi, penemuan karya seni, memodifikasi alat peraga, dan sebagainya.
6. Sebelum memulai pembelajaran guru yang ideal sudah mempersiapkan perangkat pembelajaran. Ia telah mendesain seideal mungkin pembelajaran yang akan dilakukannya esok. Teknologi digital semakin memudahkannya untuk tujuan itu.

Dari  profil guru tersebut, maka perlahan tapi pasti, semua siswa tanpa terkecuali, dari Sabang hingga Merauke, dari barat hingga timur, akan memiliki karakteristik siswa abad 21. Semoga akan lahir siswa yang memiliki keterampilan dan keahlian 4C (kritis, komunikatif, kreatif, dan kolaboratif), memiliki keahlian literasi digital, dan kecakapan hidup dan karir.