Perempuan di Tengah Arus Modernitas

Emi Rahyuni, S.P.

20/09/2018 686

Oleh: Emi Rahyuni, S.P. (Kabid Perempuan dan Anak KA KAMMI sultra)

LABRITA.ID - Ada persoalan serius yang kita hadapi ketika membicarakan identitas perempuan dalam ruang publik. Selama ini perempuan selalu menjadi korban dari berbagai arah yang sangat rumit untuk kita ketengahkan ketika berhadapan dengan perangkat modernitas. Hingga muncul feminisme, yang sebenarnya dari sisi sejarah lahir akibat rasa 'frustasi' dan 'dendam' terhadap sejarah Barat yang dianggap tidak memihak kaum perempuan. Padahal Islam sudah selesai membahas masalah ini dengan begitu apik dan menjadi sederhana.

Pada dasarnya, tak perlu ada feminisme, emansipasi perempuan, atau kesetaraan gender dan sebagainya. Sebab Allah telah menciptakan perempuan dan laki-laki dengan sangat setara. Setara tapi tak sama. Mengapa tak sama? Tentu saja agar terjadi harmoni antara keduanya. Maka saya lebih sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa alangkah manisnya jika di antara perempuan dan laki-laki, kita memilih diksi 'pasangan jenis' bukan 'lawan jenis' sebab Allah menciptakan keduanya untuk berpasangan, bukan untuk berlawanan.

Sederhana, tetapi ini terkait konstruksi berpikir kita. Agar seyogiayanya mindset yang kita bangun adalah bahwa perempuan dan laki-laki adalah mitra, pelengkap satu sama lain, bukan saingan apalagi untuk jago-jagoan di antara keduanya. Hingga betapa naifnya jika ada faham yang mencoba untuk menuntut kesetaraan di antara keduanya secara membabi buta. Bahkan tidak sedikit di antara mereka adalah Muslim. Hadist Nabi dibongkar habis. Ayat-ayat Qur'an diutak-atik hingga mereka menemukan betapa Islam begitu diskriminatif terhadap perempuan.

Padahal, tanpa disadari Islamlah sebenarnya yang menjadi inspirator gerakan feminisme ketika jaman jahiliyah. Ke-biadab-an yang menimpa perempuan disulap menjadi ke-adab-an. Sebab Islam sesungguhnya lebih feminis dari feminisme itu sendiri dalam hal memuliakan perempuan. Sebelumnya di masa jahiliyah seorang ibu akan harap-harap cemas menanti persalinannya, sebab jika bayinya perempuan maka tidak akan diberi hak hidup dengan langsung dikubur. Perempuan yang hamil sedang suaminya lebih dari satu, akan diundi siapa yang berhak menjadi ayah dari bayi itu.

Kehadiran Islam membawa cahaya bagi perempuan kala itu. Tidak hanya diberikan hak hidup, perempuan juga diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pahala dan ridho Allah. Dijamin nafkahnya oleh ayah dan saudara laki-lakinya ketika belum menikah, dan oleh suaminya jika telah menikah. Perempuan juga berhak mendapatkan mahar dari laki-laki yang hendak mempersuntingnya menjadi istri.

Jadi jika ada sistem, tatanan ataupun aturan yang paling memahami dan menghargai fitrah dan eksistensi perempuan, maka Ialah Islam. Islam memahami bahwa perempuan tidak tercipta dari mata kaki, sebab nista bila diinjak dan dihina. Perempuan juga tidak tercipta dari ubun-ubun, sebab celaka bila dipuja dan disanjung. Namun perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki, dekat di tangan untuk dilindungi, dekat di hati untuk dicinta. Ibarat kaca yang berdebu, jangan terlalu lembut membersihkannya nanti ia mudah kotor dan ternoda. Tetapi jangan pula terlalu keras, sebab ia mudah retak dan pecah.

Islam juga mengakui bahwa perempuan adalah makhluk yang didesain sedemikin rupa oleh Allah dengan segala keindahan dan kelemah-lembutannya. Lemah lembut, sebuah kolaborasi yang begitu manis. Lembut, tapi tidak lemah. Sebab itulah Allah memberikan aturan untuk menjaganya. Bukan untuk mengekangnya, melainkan untuk tetap menjaga eksistensi keindahan dan kehornatannya. Karena yang indah itu mahal. Karena yang mahal itu senantiasa dijaga dan dilindungi.

Dan relasi yang paling dekat antara laki-laki dan perempuan sebenarnya dituangkan dalam sebuah rumah tangga. Tentang kerjasama, saling mendukung dan saling memahami porsi masing-masing. Karena dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan bukanlah subtitusional dimana bisa saling menggantikan satu sama lain apalagi kompetitif, melainkan bersifat komplementer yang saling melengkapi, bermitra dalam membangun mega proyek yang bernama Peradaban Islam. Takkan ada yang menuntut hak, jika kedua pihak sukses menunaikan kewajiban masing-masing. Tidak ada makhluk superior dan inverior. Tidak ada manusia kelas wahid dan kelas kedua.

Manakala konsep ini bisa diaplikasikan oleh seluruh rumah tangga, maka ketahanan keluarga agan terjaga. Tentang sinergisitas gerakan, tentang kerjasama, juga tentang saling menghormati, terlebih tentang saling mencintai. Semuanya dibingkai dengan alasan yang sama; Allah.

Namun sayangnya, pemahaman Islam yang paripurna ini kenyataannya sebagian besar belum mampu diaplikasikan dalam kehidupan berumahtangga yang notabene merupakan unit terkecil dalam sebuah masyarakat. Oleh sebagian orang yang memahami Islam secara parsial, mengatakan bahwa perempuan yang baik adalah yang aktivitasnya cukup menjaga rumah dan mendidik anak yang mana kesemuanya itu berpusat di rumah. Bahkan menyoal adagium yang selama ini akrab di telinga kita, bahwa selalu ada perempuan kuat di balik setiap lelaki hebat, diartikan sebagai peran perempuan yang hanya cukup di balik layar. Menjaga benteng pertahanan keluarga. Bekerja dan mengeksplor potensi di luar rumah hanya akan menimbulkan kekacauan.

Pemahaman ini muncul karena kekhawatiran atas banyaknya kasus dimana perempuan terjebak dalam arus modernisme dan hedonisme. Padahal, di tengah kondisi bangsa yang semakin carut-marut ini, perempuan juga berhak tampil, mengambil andil untuk mengangkat senjata memerangi penyakit masyarakat, negara, bahkan semesta alam, terlepas seberapa besar pengaruh lelaki hebat di dekatnya. Dan ini bukan tentang emansipasi, kesetaraan gender, atau paham apapun itu. Sebab sekali lagi, Islam telah khatam membahas ini. Ini tentang fastabikul khairat. Tentang memperebutkan pahala dan ridho Allah.

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Q.S Al- Baqarah : 148)

Pada akhirnya, perempuan harus pandai menghargai eksistensinya. Cerdas di publik harus, tetapi terampil di domestik adalah sebuah kewajiban. Memilih berkarir di luar rumah boleh, tetapi rumah tangga tetap menjadi prioritas. Dan ini bukanlah hal yang mustahil. Ada banyak yang mampu melaksanakannya dan mereka bukanlah di negeri dongeng.

Apapun profesi dan latar belakangnya selama tidak memasukkan rambu-rambu syariah, perempuan harus bergerak. Buat apa yang cantik, cerdas, dan populer tapi rumah tangga berantakan? Karena itu, sukses, publik dan sukses. Tidak ada yang dikotomi di antara keduanya.

Perempuan adalah pilar-peradaban yang nantinya akan menjadi pancang peradaban. Dari rahim, tangan dan jiwanya akan tampil peradaban. Ialah madrasah pertama dan utama. Maka bersiaplah menjadi pencetak energi peradaban yang tangguh.