Kendari Bangkit Dari Pandemi Covid-19 (5)

31/10/2021 159

Oleh : Umar

Peserta Lomba Jurnalistik Kategori Umum


LABRITA.ID - Dewasa ini, dunia sedang menghadapi masalah besar. Berawal dari lahirnya suatu wabah penyakit yang disebabkan oleh virus, yaitu virus corono yang akrab disebut Covid-19, hampir semua aspek kehidupan mengalami perubahan-perubahan yang kian hari semakin mengkhawatirkan, mengegerkan penduduk dunia dan ini bukan baru kali pertama dunia digegerkan dan dilanda wabah penyakit (virus).

Seacara sosiologis, hubungan sosial semakin menurun yang ditandai dengan pembatasan interaksi sosial. Semua telah merasakan dampak dari virus covid-19 ini, mulai dari aspek sosial, ekonomi dan politik serta budaya khususnya kota kendari Sulawesi Tenggara kita harus siap menghadapi situasi atau fenomena serta perubahan ini karena cepat atau lambat aspek khidupan sosial senantiasa mengalami perubahan drastis akibat pandemi covid-19.

Di kota kendari Sulawesi Tenggara, pemerintah telah mengeluarkan banyak biaya untuk membantu masyarakat yang terdampak virus covid-19 tidak hanya itu pemerintah selalu memberikan peringatan kepada masyarakat untuk selalu mematuhi prokes (Protokol Kesehatan) 5 M, memakai masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas karena begitulah instruksi sains yang dianggap paling aman dan efektif untuk memperlambat penyebaran virus ala covid-19.

Pemerintah kota kendari juga telah banyak berbuat untuk menangani virus covid-19, seperti bekerja dari rumah, menutup pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan toko-toko yang menciptkan kerumunan dimana masyarakat berdesak-desakan bahkan kota kendari pernah menduduki zona sedang atau jingga tetapi setelah melakukan beberapa upaya untuk memutus penyebaran covid-19 sekarang kota kendari menduduki zona hijau. Bahkan sampai masuknya program pemerintah pusat ke kota kendari yaitu vaksinasi masal seolah menjadi angin segar tetapi belum ada satu keputusan dari pihak WHO dan pemerintah Indonesia bahkan pemerintah kota Kendari bahwa pandemi covid-19 telah berakhir.

Vaksinasi bak lubang cahaya meskipun lubang cahaya itu tidak mampu menembus dan memenuhi seluruh ruang bawah tanah. Karena itu, jika kita ingin menemukan jalan keluar dan mencapai kesehatan dan keselamatan maka kita harus siap untuk meraba-raba,  tersandung membuat cahaya sendiri dan acap kali harus bergerak dengan perasaan untuk menerobos kegelapan itu akibat ketidakjelasan sains menjawab persoalan pandemi covid-19.

Disatu sisi berbagai upaya telah dilakukan pemerintah kota kendari mulai dari upaya-upaya mencegah dan mengobati serta segelitintir fasilitas gedung mewah dan obat-obatan telah dibangun dan siapkan tetapi pandemi covid-19 tak kunjung berakhir. Sementara disisi lain roda kehidupan harus terus berjalan, kita tidak mungkin mengisolasi diri dirumah atau lari menyendiri disudut-sudut rungan atau disudut-sudut kota secara terus menerus sembari menikmati proses berjalannya waktu, yakinlah itu adalah pekerjaan yang sia-sia.

Kita seolah dibuat dilematis oleh pandemi covid-19 ini antara mengisolasi diri ataukah keluar dan melanjutkan aktivitas kehidupan sosial. Tak sampai disitu kita juga membuahkan aneka macam praduga dan prasangka serta prespsi imajinatif, presepsi inderawi dan presepsi intelektual juga spiritual. Sehingga penting membangun sebuah opini yang narasinya bukan hanya ilmiah tetapi juga filosfis untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi covid-19 ini.

Bagi pemerintah kota kendari Sulawesi Tenggara ini menjadi tantangan multidimensi. Pemerintah dan masyarakat dihadapkan dengan berbagai keputusan sulit baik itu disektor kesehatan, sosial, ekonomi, maupun politik dalam upaya menuntaskan masalah virus pandemi sejenis covid-19 yang begitu menggelegar penuh misteri serta sangat mencemaskan kehidupan masyarakat kontemporer khususnya masyarakat kota Kendari.

Betapa tidak kita telah dijejali banyak informasi hal-ikhwal pandemi covid-19 yang sedang terjadi saat ini. Mulai dari data, berita resmi, cerita orang-orang yang terdampak, hingga opini para intelektual. Akan tetapi, kita akhirnya berhadapan dengan sesuatu yang mungkin saja kita sendiri tidak mayakini, sehingga terus bertanya-tanya dan mencari jejak kepastiannya. Pada situasi ini berita resmi yang biasa dianggap sebagai kebenaran telah jadi rumor, solusi sains jadi mentah, cerita orang-orang belalu begitu saja dan opini-opini yang lahir diperlakukan tak lebih dari esai singkat dari sang raja parno. Tidak tergoda mencari jawaban tunggal lagi universal dan mempertimbangkan banyak hal yang memungkinkan terjadinya pandemi covid-19, seharusnya bukanlah persoalan sulit dan layak untuk diuji. Kita harus memilih memercayai ilmu pengetahuan dan pakar kesehatan dibanding konspirasi tak berdasar.

Tampaknya, kita tidak hanya sekedar mengikuti aturan, tapi juga sedang menjalankan (mungkin juga menghargai) temuan dalam perjalanan sains hingga sekarang. Dunia saat ini bergantung pada riset yang didorong oleh rasa ingin tahu, tidak serta merta karena proyek tanggap darurat atau gagah-gagahan. Para ahli virology evolusioner, ahli ekologi penyakit, ahli biofisika dan ilmuwan di banyak bidang penelitian lainnya memberi informasi kepada dokter dan pembuat kibijakan serta pada penelitian termutakhir saat ini.

Sehubungan dengan itu, sains dasar merupakan tahap untuk menjawab persoalan kita. Bisa dibayangkan ketika kita sedang mencoba menyingkap struktur molekuler atau aturan DNA dari pathogen yang menular, tetapi bagaimana bisa kalau kita tidak memiliki teori atom sebagai fondasi. Cara kerja sains menolong kita dari drama yang secara vulgar menyajikan alam pikiran pra modern. Lanskap media berada pada pergulatan besar antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan informasi yang salah, berita benar dan berita palsu dan dalam drama ini, maka musuh-musuh kebenaran pun hadir.

Ironisnya, para ahli terkepung oleh buzzer atau bak terjebak dalam labirin, kaum populis dan influencer bayaran. Anda bisa membayangkan apa yang diharapkan oleh tangan-tangan seperti itu selain “dunia tampa pakar”. Karena itu, para ahli perlu membuat kembali kepercayaan publik melalui pengecekan fakta yang lebih baik. Jangan membiarkan umat manusia atau mayarakat kota Kendari meraba-raba di kegelepan dan kemudian bergerak untuk menerobos kegelapan.

Mungkin tidak dan justru sebaliknya, covid-19 mungkin akan memaksa kita untuk mengggandakan upaya kita untuk menlindungi nyawa manusia. Reaksi kultural terhadap covid-19 yang dominan saat ini bukanlah sikap pasrah, melainkan sikap gabungan antara penyesalan dan harapan. Meski ketika para penceramah agama dengan cepat memaknai AIDS sebagai bentuk hukuman Tuhan untuk orang-orang gay, namun bagi masyarakat modern justru mengabaikan pandangan semacam itu dan meletakannya pada sisi-sisi yang fanatik.

Kini, kemanusiaan menghadapi sebuah krisis akut bukan hanya disebabkan oleh virus covid-19 tetapi juga karena kurangnya kepercayaan diantara manusia. Sementara untuk mengalahkan pandemi sejenis covid-19 yang sedang melanda, orang-orang perlu mempercayai ilmuwan, warga negara perlu percaya kepada otoritas publik, dan tiap negara perlu saling percaya. Sementara kini politisi enggan bertanggungjawab dan bahkan dengan sengaja telah menggerogoti kepercayaan kepada ilmu pengetahuan, otoritas publik dan kerjasama internasional.

Jika pandemi covid-19 ini menghasilkan perpecahan yang lebih besar maka virus covid-19 lah yang memenangkan “peperangan” ini. Namun ketika manusia atau masyarakat kota Kendari hendak bangkit dari keterpurukan akibat covid-19 maka harus berbuat dan mengahasilkan kerjasama global yang lebih erat maka hal ini akan menjadi kemenangan, akan menjadi kebangkitan bukan hanya atas virus covid-19, malainkan atas permasalahan-permasalahan di masa mendatang.

Bahwa kini bukan saatnya untuk merasa malu dan terstigmatisasi, tetapi ini waktunya untuk mengumpulkan keberanian dan kesabaran dalam perjuangan menghadapi pandemi covid-19 ini. Kalau kasus gempuran virus covid-19 yang tengah memporak-porandakan kehidupan masyarakat kontemporer di berbagai belahan bumi ini, khususnya masyarakat kota Kendari masih juga enggan diakui sebagai hukuman dan laknat Allah atas kebrutalan anak manusia kontemporer sebagaimana di masa kenabian seperti kasus Raja Namrud versus Nabi Ibrahim serta Firaun versus Nabi Musa.

demikian pula sebagai teguran atau ujian kepada orang-orang beriman yang lalai dan menyimpang dari ajaran agamanya. Maka paling tidak secara empiris menunjukkan bahwa bencana pandemi covid-19 ini tampil mengajarkan kepada anak manusia untuk hidup membersihkan diri, membersihkan lingkungan, menyantap makanan halal, menutup aurat bagi anak cucu ibunda Hawa dan tidak bepergian ke tempat-tempat yang berbalut aneka macam virus.

Harus direfleksikan oleh para pengajar dan kaum pendidik bahwa dibalik merebaknya pandemi covid-19 ini sesungguhnya terdapat tanda-tanda sifat arogansi sebagaimana ketakaburan sang dewa palsu Namrud bersama pasukannya yang terkapar oleh segerombolan lalat yang menggerogoti hidung mereka serta Firuan yang menghembuskan nafas terakhirnya di lautan. Demikian pula kini kesombongan Xi Jiping presiden China sebagai Firaun modern telah dijawab oleh Allah dengan virus corona atau covid-19 yang proses penyebarannya begitu cepat dan masif. Akibatnya, China tampil menjadi sebuah bangsa dan negara yang sangat menakutkan dan menyeramkan di dunia kontemporer.

Sesungguhnya peristiwa pandemi covid-19 yang menengangkan penghuni bumi itu adalah tidak hanya mempengaruhi perlaku manusia secara kontemporer, sehingga ke dapan mampu mengantisipasi ketika gempuran virus itu dating kembali menemui mangsanya. Akan tetapi, semoga bisa disadari sepenuhnya terutama oleh kaum ilmuwan dan elit sosial yang diberi amanah untuk menyelamatkan masyarkat, bangsa dan negaranya bahwa ditengah hempasan dahsyat covid-19 ini terkandung realisme metafisik dan realisme empiris yang keduanya harus diperhatikan dan disadari untuk kebangkitan dari segala keterpurukan akibat pandemi covid-19 yang seharusnya tidak bisa diabaikan dan tercampakan dalam mengarungi kehidupan ini.

Begitulah potret dan narasi dalam tulisan ini mencoba mamantik kesadaran kita semua khusunya masyarakat kota kendari Sulawesi Tenggara. Kasadaran itu bukan hanya kesadaran individu, masyarakat, bangsa dan negara tetapi diatas kesadaran semua itu adalah kesadaran akan Ketuhanan Yang Maha Esa yang tidak lain dan tidak bukan untuk kebankitan warga masyarakat kota kendari Sulawesi Tenggara.

Bahwa semua fenamona, baik fenomena sosial mau pun fenomena alam terdapat tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT bagi orang-orang yang mengunakan akal sehatnya juga bagi orang-orang yang mau mengunakan hati nuraninya. Karena semua fenemena tersebut ada pelajaran dan hikmah yang terkandung di dalamnya dan sembari berusaha untuk berbuat dengan cara-cara yang berdasarkan sains dan ilmu pengetahuan serta kasadaran spiritual bukan berdasarkan konspirasi-konspirasi yang tak berdasar lagi merugikan.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk mengikutinya. Tunjukkanlah pula kepada kami yang salah itu salah dan berikanlah pula kemampuan kepada kami untuk menghindarinya.

Terimakaih Banyak.

Kendari Bangkit.

Tidak Ada Tag