Para Pelatih Tim Top Eropa yang Terancam di Musim Depan
Pep Guardiola (Foto: mancity.com)
LABRITA.ID - Beberapa tim di Eropa memiliki ambisi tinggi. Mereka selalu menargetkan piala di kompetisi Eropa setiap tahunnya. Klub seperti Real Madrid, Barcelona, dan Bayer Muenchen merupakan tim yang tak puas hanya dengan meraih tropi domestik. Tak heran, pemain berkualitas dan pelatih top selalu jadi incaran mereka.
Beberapa tim baru bermodal besar mulai mengikuti perjalanan mereka yang lebih dahulu mapan. Manchester City dan PSG merupakan tim dengan ambisi besar. Liga domestik Inggris dan Prancis telah berulang kali dikuasai dan tiap tahun selalu berusaha untuk menaklukkan UEFA Champions League (UCL).
Baca Juga: 7 Tim Luar Biasa yang Bubar Sebelum Capai Titik Tertinggi
Uniknya tahun kompetisi 2018/2019 merupakan tahun kegagalan manajer tim level Eropa tersebut. Kegagalan bukan hanya di level Eropa, bahkan kompetisi domestik nirgelar. Real Madrid dan Manchester United merupakan contohnya. MU yang pernah meraih treble winner bersama Alex Ferguson bahkan gagal ikut UCL musim 2018/2019.
Juventus merupakan tim yang memegang rekor keberhasilan menjuarai Liga Italia yaitu 8 kali berturutan. Sudah bukan rahasia Juve ‘ngebet’ ingin meraih yang lebih besar yaitu Tropi UCL. Beberapa pemain dibeli dengan harga tinggi yaitu Gonzalo Higuain dan Cristiano Ronaldo. Keduanya dibeli dengan nilai mendekati € 200 juta dari Napoli dan Real Madrid.
Baca Juga: Carlos Kaiser, Penipu Terbesar dalam Sejarah Sepakbola
Berikut beberapa Manajer Tim besar Eropa yang terancam karena belum memenuhi target para pemiliknya.
1. Ernesto Valverde
Level kualitas klub Barcelona adalah menjuarai UCL. Sejak ditangani Valverde harapan tersebut semakin mengecil. Dua kekalahan memalukan Barca dari AS Roma dan Liverpool pada 2 musim UCL terakhir menjadikan Valverde duduk di kursi pesakitan.
Investasi Barca yang begitu besar membeli Ousman Dembele dan Phillipe Coutinho seperti tak ada hasilnya. Dembele sering cedera dan Coutinho tidak konsisten pada musim ini. Lebih dari 250 juta poundsterling dikeluarkan Barca untuk mendapatkan keduanya.
Baca Juga: Lima Pelatih Top yang Bisa Dipecat Musim Depan
Barca bukanlah tim yang puas dengan menjuarai La-Liga. Barca selalu ingin lebih tapi tidak berdaya sejak ditinggal Pep Guardiola. Barca selalu mencari manajer yang mengembalikan kejayaan era Guardiola. Terlebih rival utama, Real Madrid, mampu membawa pulang trofi UCL tiga kali beruntun.
Bila Valverde tak dipecat di akhir musim ini, maka musim kompetisi 2019/2020 menjadi pembuktian akhir level Valverde di Eropa. Erik ten Hag yang sementara menangani Ajax bisa menjadi bidikan utamanya.
2. Zinedine Zidane
Harapan kenaikan performa Real Madrid atas kembalinya Zizou tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Real Madrid masih sering kalah dari klub papan bawah. Pada konferensi pers usai kalah dari tim degradasi Rayo Vallecano (0-1), Zizou tak dapat menahan kemarahan atas performa pemainnya.
Kehilangan Cristiano Ronaldo, Real Madrid belum menunjukkan kebangkitan berarti. Beberapa pemain berkualitas diincar pada jendela transfer musim panas 2019. Eden Hazard, Paul Pogba, dan Cristian Eriksen dibidik untuk meningkatkan kualitas permainan tim ibukota Spanyol ini. Di sisi lain, banyak yang meragukan ketiganya memiliki kualitas kepemimpinan serupa CR7.
Zizou perlu menunjukkan kualitas kepelatihan dan kepemimpinannya sendiri tanpa kehadiran CR7 di Real Madrid kali ini. Bisa jadi Real Madrid kebingungan lagi mencari pelatih yang bisa mengelola Los Galacticos-nya.
Baca Juga: Pencarian Ronaldo dan Real Madrid
3. Massimiliano Allegri
Juventus merupakan tim yang disegani di Italia bahkan Eropa. Allegri mampu mempersembahkan 5 trofi Liga Italia berturut-turut. Secara beruntun juga Juventus gagal membawa si ‘Kuping Besar’ ke Turin.
Awal kompetisi 2018/2019, Juventus mengejutkan publik sepakbola ketika mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Real Madrid. Kehadiran CR7 tentu bukan untuk mempertahankan juara Liga Italia. Memenangi UCL adalah tujuan sesungguhnya. Sialnya, pasukan Allegri takluk dari Ajax di perempat final dan terjadi di Allianz Stadium markas Juve sendiri.
Kecuali, Juve sudah merubah targetnya untuk menjadi kampiun di Eropa, posisi Allegri di Juve tidaklah aman. Isu pengunduran diri Allegri paska kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid di perdelapan final sempat muncul. Beruntung CR7 mampu mencetak hatrick untuk membawa Juve lolos ke perempat final. Kita tunggu perkembangan selanjutnya.
4. Niko Kovac
Kehadiran Nico Kovac sebagai manajer Bayer Muenchen di awal musim mengagetkan banyak pengamat. Maklum Nico Kovac bukan berasal dari tim besar yang sukses menjuarai liga. Kovac sebelumnya menangani Eintracht Frankfurt.
Sebelum memilih Kovac, Bayer Muenchen lebih banyak diisukan akan ditangani oleh Juergen Klopp atau Thomas Tuchel. Mantan pelatih Timnas Kroasia ini, sempat mengalami kesulitan di awal kompetisi dan tertinggal 7 poin dari rival terkuat, Borussia Dortmund. Bayern pun sudah tersingkir dari Liverpool di Perdelapan Final UCL.
Bayern digosipkan sedang membidik Pochettino, Erik ten Hag, atau Thomas Tuchel. Bayern salah satu klub besar yang memiliki kualitas level Eropa seperti halnya Madrid dan Barca. Mereka selalu mencari pemain dan pelatih terbaik yang ada.
5. Ole Gunnar Solksjaer
Tidak banyak yang percaya Solksjaer akan mampu membawa kejayaan Manchester United paska Alex Ferguson pensiun. Tidak ada salahnya mencoba pemain era kejayaan Ferguson. Namun hasil pertandingan pada bagian akhir kompetisi di EPL maupun UCL tidaklah menggembirakan.
Baca Juga: Belitan Masalah si Setan Merah
MU menjadi tim pertama di 6 besar yang tidak berpartisipasi di UCL 2019. Performa pemain-pemain bintang MU merosot drastis. Hair Dryer ala Solksjaer tidak memiliki efek terhadap kinerja tim di lapangan.
Masalah terbesar MU adalah kemerosotan tim sudah terjadi pada 3 era sebelumnya. David Moyes dan Louis van Gaal adalah manajer yang gagal mengangkat MU. Hadirnya Jose Mourinho hanya menghasilkan Piala Liga Eropa. Setelah itu, pertengkaran Mourinho dengan pemainnya lebih banyak diberitakan media.
MU banyak dihubungkan dengan Pochettino dan Roberto Mancini. Belum jelas siapa yang akan direkrut untuk menggantikan Solksjaer.
6. Mauricio Pochettino
Berbeda dengan yang lain, ini klub biasa dengan pelatih kelas dunia. Klub dari London Utara ini masih di bawah bayang-bayang Arsenal yang lebih dulu sukses.
Baca Juga: Jalan Lain Arsenal ke Level Elit Eropa
Tottenham Hotspurs adalah tim yang pelit dalam membangun tim. Kemauan membeli pemain jadi dan menggaji pemain yang sudah level bintang adalah masalahnya. Musim lalu ketika sedang membangun stadion baru, Daniel Levy sama sekali tidak membeli pemain baru. Beruntung, Pochettino pelatih yang loyal dan mampu meningkatkan kualitas tim secara keseluruhan.
Spurs lolos ke final UCL dan akan berhadapan dengan Liverpool. Ketika level finalis UCL sudah diraih, Pochettino harus lebih mempertimbangkan prestasi dan kariernya. Selain itu, tawaran dari berbagai klub besar selalu muncul di setiap awal musim. Terakhir Bayern dan MU mempertimbangkan Pochettino bila Kovac dan Solksjaer tidak berhasil mencapai target klub.
7. Joseph Guardiola
Sebelum kehadiran Guardiola, City sudah 2 kali menjuarai EPL yaitu saat ditangani Roberto Mancini dan kedua saat Manuel Pellegrini. City ingin terus berkembang dan mencapai level Eropa seperti Madrid dan Barca.
Baca Juga: Menanti Sentuhan Maksimal Guardiola di Manchester City
Sejak ditangani Pep, City dua kali tersingkir oleh klub sesama Inggris. Tahun lalu City dikalahkan Liverpool dan tahun ini disingkirkan oleh Tottenham Hotspurs. Bukan kekalahan yang mudah dipahami banyak orang.
Syeh Manshour bin Zayed Al-Nahyan, pemilik City, termasuk yang cukup sabar membangun tim dan menunggu kehadiran Pep di Etihad. Grup Abu Dhabi Investor Group ini membangun stadion berkapasitas besar, pusat pelatihan dan pusat akademi baru. Untuk mendapatkan Pep, City merekrut terlebih dahulu Ferran Soriano dan Txiki Bergiristain.
Tujuan kehadiran Pep adalah Tropi UCL. Bila Pep selalu gagal membawa si ‘Kuping Besar’ ke Kota Manchester, berapa lama kesabaran Syeh Manshour bisa dipertahankan? Atau Syeh Manshour bersedia merubah target besar City untuk seorang Pep Guardiola?
Penulis: Rizal