Bahasa Indonesia dan Penguatan Pendidikan Karakter

Ilustrasi. (Foto: labrita.id)

14/11/2019 53

Marniati Murtaba, S.Pd.  (Guru SMA Negeri 2 Lambandia, Kolaka Timur) 
 
LABRITA.ID - Sejak tahun 2018  Kurikulum 2013 wajib diberlakukan pada semua jenjang pendidikan. Dengan ketentuan ini, pemberla kuan kurikulum 2013 bagi peserta didik baru tahun ajaran 2018/2019 bersifat serentak di seluruh Indonesia.  Ada empat hal yang ditekankan pada kurikulum 2013 versi 2018, yakni Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Literasi, High Order Thinking Skill (HOTS), dan 4C (Critis, Creative,Communicative, dan Colaborative).  

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) menjadi sebuah angin segar bagi pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Karakter merupakan sesuatu yang perlu dibina. Karakter perlu diarahkan sehingga benar-benar berada pada jalurnya. Apalagi bagi siswa yang masih dalam pencarian jati diri. Siswa perlu bimbingan dan arahan tentang jalan yang mesti ditempuh pada masa yang akan datang. Sejak di bangku sekolah, siswa perlu mengenal pendidikan karakter. Dengan mengenal pendidikan karakter sejak dini, siswa akan terpola pemikiran dan tingkah lakunya ke arah yang sesuai dengan norma yang berlaku. Siswa diharapkan memiliki karakter Indonesia sesuai dengan ruh Gerakan Nasional Revolusi Mental. 

Baca Juga: Guru dan Siswa di Abad 21

Untuk mewujudkan pelaksanaan PPK di sekolah, guru menjadi ujung tombak. Sehubungan dengan posisi guru sebagai fasilitator, motivator, dan inisiator, guru berperan penting dalam terwujudnya PPK di sekolah. Hal mendasar yang dapat dilakukan guru adalah mendesain rancangan pembelajaran yang memuat unsur penguatan karakter. Nilai-nilai karakter berupa religius, Nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong royong tergambar jelas dalam desain pembelajaran. 

Selain memuat unsur PPK, pembelajaran dalam Kurikulum 2013 juga diharapkan berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam bahasa umum dikenal sebagai Higher Order Thinking Skill (HOTS). Menurut beberapa ahli, definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi salah satunya dari Resnick (dalam Ariyana, dkk, 2018: 5) adalah proses berpikir kompleks dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. Keterampilan ini juga digunakan untuk menggarisbawahi berbagai proses tingkat tinggi menurut jenjang taksonomi Bloom. Menurut Bloom, keterampilan dibagi menjadi dua bagian. Pertama, adalah keterampilan tingkat rendah yang penting dalam proses pembelajaran, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), dan menerapkan (applying), dan kedua adalah yang diklasifikasikan ke dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi berupa keterampilan menganalisis (analysing), mengevaluasi (evaluating), dan mencipta (creating). 

Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skill (HOTS) menjadi jawaban atas apa yang mesti dimiliki siswa pada abad 21 ini. HOTS merupakan kemampuan berpikir yang telah berada pada level C4 ke atas pada taksonomi Bloom. Jika sebelumnya siswa lebih banyak diarahkan pada kemampuan berpikir tingkat C1 hingga C3, maka kini paradigma tersebut harus berubah. Siswa Indonesia abad 21 harus memiliki kemampuan setara C4 hingga C6 apalagi bagi siswa SMA yang secara alamiah sudah merupakan calon mahasiswa. 

Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran wajib dalam semua kurikulum. Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional. Pada beberapa sekolah yang masih menerapkan KTSP (bagi siswa kelas XI dan XII), pembelajaran tetap diarahkan berorientasi HOTS. Soal-soal Ujian Nasional baik KTSP terlebih K13 menggunakan soal-soal yang HOTS. Oleh karena itu, dalam pembelajaran, guru wajib mendesain pembelajaran berbasis HOTS. 

Desain pembelajaran yang bersifat HOTS akan membuat siswa terlatih untuk menganalisis, mengevaluasi sebuah masalah, bahkan siswa terlatih untuk mencipta. Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, orientasi HOTS sangat sejalan dengan muatan mata pelajaran. Pada saat Kurikulum 2013 diberlakukan, buku bahasa Indonesia yang dipakai pada tahun 2013 menuliskan bahwa “Bahasa Indonesia Pembawa dan Penghela Ilmu Pengetahuan.” Kalimat bijak ini dapat dipahami secara luas bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai medianya. Sekali pun saat itu yang dipelajari adalah mata pelajaran bahasa asing, bahasa Indonesia tetap dipakai sebagai dasar pemahaman terhadap kosakata bahasa asing. 

Kebijakan pemerintah yang terus memperbaharui kurikulum hingga saat ini merupakan sesuatu hal positif yang patut diterima. Wajibnya pemberlakuan Kurikulum 2013 untuk seluruh sekolah merupakan amanat yang mesti diterima oleh sekolah dengan gembira. Terlebih lagi, saat ini diamanatkan agar pembelajaran di sekolah berbasis PPK dan HOTS. Guru diberikan ruang yang luas untuk mendesain pembelajaran yang mengasah karakter siswa dengan menjadikan karakter sebagai salah satu unsur penilaian. Selain mendesain Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), guru juga mengintegrasikan unsur HOTS dalam desain pembelajarannya. Dengan demikian, PPK dan HOTS saling melengkapi. Keberadaan PPK dan HOTS tidak berdiri sendiri, melainkan saling melengkapi. 

Baca Juga: Kompetensi Guru di Era Teknologi Digital

Pada pembelajaran bahasa Indonesia, PPK dan HOTS sangat berterima untuk masuk dalam desain pembelajaran. Merujuk pada Permendikbud Nomor 24, pembelajaran bahasa Indonesia di Kelas X diarahkan pada jenis-jenis teks, mulai dari teks laporan hasil observasi, eksposisi, anekdot,  hikayat, negosiasi, debat, biografi, puisi, dan resensi. Semua materi ini membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi mulai dari menganalisis isi dan struktur teks hingga mengkonstrukskannya. Selain berorientasi HOTS, yang tidak kalah penting adalah Penguatan Pendidikan Karakter dalam mempelajari teks-teks tersebut. Muatan pendidikan karakter yang mengkristal dalam lima nilai: religius, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong harus muncul pada desain hingga penerapannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia. 

Dalam pembelajaran teks eksposisi, misalnya, siswa dituntut untuk bisa  mendeskripsikan struktur dan isi teks eksposisi yang dibaca. Dalam hal ini, siswa dibangun karakter mandiri. Karakter mandiri yang terbangun adalah melalui kegiatan siswa diminta menemukan sendiri struktur teks yang dibaca. Setelah
menemukan struktur teks, siswa juga menemukan ciri kebahasaan yang terdapat dalam teks eksposisi yang dibaca. Selain bekerja secara individu, teks eksposisi juga dapat didesain pembelajarannya dalam bentuk kelompok. Dalam kelompok terujilah semangat gotong royong di antara sesama anggota. Guru
dalam hal ini membiasakan siswa untuk bisa bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. 

Selain mandiri dan gotong royong, karakter lain yang bisa dibangun melalui pembelajaran bahasa Indonesia adalah nasionalisme. Nasionalisme sejalan dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, bahasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta merupakan alat perhubungan di tingkat nasional.

Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi sebagai lambang identitas nasional, lambang kebanggaan nasional, alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa yang berbeda latar belakang sosial, budaya, dan bahasa, serta alat penghubung antardaerah dan antarbudaya .  

Dengan pemahaman akan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia, maka akan muncul rasa nasionalisme yang tinggi. Munculnya nasionalisme yang tinggi akan membuat seseorang lebih tekun belajar dan berusaha. Peran guru di sini adalah membuat desain pembelajaran yang mengokohkan nasionalisme. Dalam membuat teks, peserta didik diarahkan untuk menulis tentang keindonesiaan. Dalam materi menulis teks laporan hasil observasi, rasa nasionalisme dapat ditingkatkan melalui pengamatan terhadap proses dan kebudayaan Indonesia. Proses dan kebudayaan Indonesia dimulai dari skala daerah sendiri lalu menuju ke arah yang lebih luas, yakni Indonesia. 

Karakter nasionalisme juga dapat ditunjukan dengan menyanyikan lagu kebangsaan sebelum dan sesudah pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Hal ini sejalan dengan isi sumpah pemuda, yakni bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Sumpah pemuda yang dikukuhkan tanggal 28 Oktober 1928 ini juga sekaligus menjadi penanda lahirnya bahasa Indonesia. Dalam pembelajaran baik kurikulum sebelumnya hingga kini Kurikulum 2013, bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang diujikan pada ujian nasional. Dalam Kurikulum 2013, bahasa Indonesia masuk dalam kelompok mata pelajaran wajib. 

Karakter yang berikutnya adalah religius. Karakter religius, artinya mampu memosisikan diri sebagai makhluk ciptaan Sang Khalik (hubungan dengan sang pencipta), kemudian sebagai makhluk sosial (hubungan dengan sesama manusia), dan hubungan dengan alam semeste). Wujud karakter ini dapat ditanamkan melalui pemberian video bencana alam dan bencana sosial. Peserta didik mengamati video dan menuliskan teks laporan hasil observasi atau pun menulis teks eksplanasi. Peserta didik dapat belajar pentingnya menjaga alam yang merupakan titipan dari Sang Maha Pencipta. Dengan pemberian apersepsi dan motivasi menggunakan media video, guru telah melakukan penyadaran secara perlahan akan pentingnya menjaga kelestarian alam.

Baca Juga: Gotong Royong Selamatkan Karakter Anak Negeri

Selain empat karakter yang telah dipaparkan, pembelajaran bahasa Indonesia juga memperkuat pendidikan karakter berupa nilai integritas. Subnilai integritas menurut Direktorat Pembinaan Tendik Dikdasmen, Ditjen Guru dan Tendik, Kemendikbud, adalah kejujuran, keteladanan, tanggung jawab, antikorupsi, komitmen moral, dan cinta pada kebenaran. Penanaman nilai karakter integritas pada mata pelajaran bahasa Indonesia antara lain dapat diwujudkan dengan peserta didik dimotivasi untuk menyelesaikan tugas tepat waktu. Tugas yang diselesaikan dan dikumpul dengan tepat waktu pada hakikatnya menuntun perwujudan nilai tanggung jawab. Tugas yang diselesaikan sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati pada hakikatnya mewujudkan nilai komitmen moral. 

Pada akhirnya, semua pembelajaran, tanpa terkecuali, dalam kurikulum 2013 diarahkan untuk menguatkan pendidikan karakter. Dengan lima nilai karakter utama  yang telah tertanam sejak di bangku sekolah, maka akan menjadi sebab kegemilangan generasi pada masa yang akan datang. Tugas semua guru untuk memotivasi, memfasilitasi, dan membuat inovasi yang dapat meneguhkan kristalisasi nilai dalam diri seorang peserta didik. Tentu saja, yang tidak kalah penting, adanya keteladanan pada diri sang guru yang menjadi ruh yang senantiasa menjadi pelecut semangat bagi peserta didiknya.