Pilkada Serentak 2020: Mengurai Perlakuan Petahana dan Penantang

Ilustrasi Foto Diambil Saat Pileg 2019. (Foto: Labrita.Id)

06/12/2020 242

LABRITA.ID - Pilkada di tujuh kabupaten di Sulawesi Tenggara memasuki tahapan akhir. Beberapa survei sudah dirilis dan memperlihatkan bahwa tidak semua petahana dapat menang dengan mudah. Bahkan beberapa petahana terlihat terseok-seok dalam menghadapi penantangnya. Hal ini menarik dianalisis untuk kepentingan publik.

Pertama, petahana dan penantang harus menyadari bahwa situasi pandemi Covid-19 bukan hanya mengubah aturan, tetapi juga mengalihkan persepsi masyarakat tentang politik dan pemilihan. Pemilih terlihat cukup khawatir dengan pandemi dan mulai merasakan dampak lanjutan penerapan pembatasan. Pemilih menginginkan kondisi ekonomi kembali seperti sebelumnya dan mendapatkan lapangan pekerjaan.

Pihak pertama yang dianggap bertanggung jawab terhadap kondisi ekonomi dan lapangan pekerjaan adalah kepala daerah petahana. Kritik dan kampanye negatif yang dilancarkan penantang akan menambah ketidakpuasan terhadap petahana. Bila kritik dan kampanye negatif tersebut terbukti ada dan dilakukan oleh petahana maka akan menurunkan elektabilitasnya. Bila dilakukan secara masif dan terus menerus maka bukan tidak mungkin petahana akan terjungkal dari jabatannya.

Baca Juga: Mengurai Perpolitikan Malaysia 2020

Kedua, tingkat kepuasan pemilih terhadap pembangunan dan perilaku kepala daerah petahana. Semakin tinggi kepuasan pemilih maka elektabilitas petahana juga semakin tinggi. Petahana yang cerdik akan banyak melakukan pembangunan yang menyentuh langsung dan banyak melakukan interaksi dengan pemilih. Tingkat kepuasan tinggi akan memberikan peluang besar untuk meraih kemenangan di pemilihan.

Kritik dan kampanye negatif dari penantang pada prinsipnya adalah meningkatkan ketidakpuasan tersebut. Seringkali penantang kurang fasih memberikan kritik politiknya. Kata-kata kasar penantang seringkali mengaburkan pesan yang hendak disampaikan kepada pemilih. Kritik penantang juga lebih cenderung memuaskan semangat pendukungnya daripada pemilih yang belum menentukan pilihan atau pemilih lawan yang masih ragu-ragu.

Ketiga, penantang cenderung sibuk melakukan kritik dan negatif kampanye untuk menurunkan elektabilitas petahana dan kurang membangun figur pribadi yang kuat serta disenangi pemilih karena program-program pembangunannya. Ketika kritik dan kampanye negatif penantang dipercaya oleh pemilih maka elektabilitas petahana akan turun. Turunnya elektabilitas petahana tidak serta merta menaikan elektabilitas penantang. Pemilih membutuhkan figur penantang yang meyakinkan untuk menggantikan petahana.

Oleh karena itu, penantang yang cerdik melakukan dua pekerjaan sekaligus yaitu melakukan kritik kepada petahana dan membangun figur diri serta programnya. Ketika figurnya disukai dan programnya dibutuhkan oleh pemilih, turunnya elektabilitas petahana sebagian besar akan berpindah kepada penantang tersebut. Hal ini makin bertambah bila kandidat berjumlah tiga atau empat. Pada beberapa kasus, ketika figur penantang yang ada tidak dilihat kapabel baik secara pribadi maupun programnya maka pemilih akan kembali memilih petahana.

Baca Juga: Pilkada Serentak 2020: Paslon Cerdas Menjadikan Form C1 Sebagai Kunci

Keempat, pemilihan pada masa pandemi memunculkan aturan-aturan baru terutama membatasi keikutsertaan masyarakat dan menambah syarat-syarat kesehatan. Petahana dan penantang harus cerdik memilih teknik yang tepat untuk berkampanye. Isu dan sarana mengirimkan pesan perlu dipilih agar dapat mudah dipahami dan dipercaya pemilih.

Pilkada gubernur dan kabupaten besar membutuhkan waktu yang panjang untuk berinteraksi dengan mayoritas pemilih. Isu yang dibangun harus selaras dengan seluruh perencanaan strategis pemenangan sehingga terbentuk figur kandidat yang  dipercaya oleh pemilih. Media sosial sedang 'booming' sebagai sarana kampanye dan semua kandidat memanfaatkannya untuk berkampanye. Ingat, pemilihan isu dan membangun figur yang tepat adalah penting untuk kemenangan di pemilihan.

Yan Herizal
Peneliti Politik