Pilkada Serentak 2020: Paslon Cerdas Menjadikan Form C1 Sebagai Kunci

Ilustrasi Foto Diambil Saat Pileg 2019 (Labrita.Id)

11/12/2020 693

LABRITA.ID - Hasil hitung cepat beberapa lembaga survei menyebut tiga petahana tumbang di Pilkada Sultra 2020 ini. Cukup mengejutkan karena biasanya petahana dengan berbagai instrumen yang dimilikinya sulit dikalahkan.

Beberapa survei yang dapat dipercaya dua pekan menjelang pemilihan, dua incumbent lainnya nyaris tumbang mengikuti tiga petahana yang disebutkan sebelumnya. Tampaknya strategi dua pekan terakhir berhasil membalikkan situasi tersebut.

Setelah penghitungan selesai di TPS, tensi politik bagi yang selisih suaranya tipis tentu belum turun. Bagi pemenang maupun paslon peringkat kedua yang memiliki selisih suara tipis, sedang tegang menunggu kepastian kemenangan baik secara administrasi maupun politik.

Baca Juga: Pilkada Serentak 2020: Mengurai Perlakuan Petahana dan Penantang

Secara politik, penetapan di PPK dan KPUD masih menunggu terkumpulnya berkas dan kotak suara dari TPS serta jadwal pleno masing-masing. Dalam 14 hari, KPU sudah harus menetapkan hasil perhitungan suara dan pemenang pemilihan.

Secara administrasi, proses masih terus berjalan yaitu dikumpulkan sejumlah dokumen penting untuk proses politik selanjutnya. Dokumen paling penting sejak ditutupnya TPS adalah form C1. Form C1 ini merupakan rekapitulasi perhitungan suara di TPS. Dokumen ini merupakan dokumen paling penting untuk penetapan hasil perhitungan di PPK, KPUD, bahkan di MK bila ada gugatan. Kegagalan kemenangan pasangan calon kepala daerah setelah pencoblosan salah satunya ditentukan kelengkapan dokumen form C1.

Mengumpulkan form C1 dari sejumlah TPS serta mengamankan dan mendistribusikan bukanlah pekerjaan sederhana. Persiapan dilakukan minimal dua pekan sebelum hari pemilihan. Persiapan dimulai dari seleksi sejumlah orang yang menjadi saksi di TPS. Kemudian dokumentasi seluruh form C1 untuk tim saksi tingkat kecamatan, daerah, dan tim hukum bila ada gugatan di MK.

Baca Juga: Mengurai Perpolitikan Malaysia 2020

Setelah TPS ditutup, paslon yang cerdas sudah duduk tenang dan bersiap melaksanakan tak-tik berikutnya di tahapan perhitungan PPK dan menimbang tak-tik lanjutan saat pleno KPUD. Para pengacara pun duduk santai di markas besar menunggu laporan perkembangan setiap pleno PPK. Mereka telah memiliki seluruh dokumen paling penting dalam penghitungan yaitu form C1.

Sebaliknya, paslon yang tidak menganggap penting tim saksi, mulai keringat dingin. Apalagi bagi paslon yang dalam hitung cepat disebutkan kalah dan belum mengumpulkan form C1. Kerumitan mengumpulkan form C1 bukanlah pada mendapatkan dokumen tersebut. Kerumitannya terletak pada sistem yang dibangun dan produk turunan yang dihasilkan. Real count dan quick count merupakan sebagian dari produk turunan sistem saksi pemilu.

Baca Juga: Pilkada Konawe Selatan: Saling Klaim Menang, SUARA Pakai Hitung Cepat, EWAKO Andalkan Real Count

Ada juga Paslon yang berlebihan dalam mengelola saksi. Paslon jenis ini bahkan menghendaki tiap TPS lebih dari satu saksi dan mengalokasikan dananya. Padahal mestinya seperti ini tidak perlu. Sebabnya, jumlah orang yang memiliki hak sebagai saksi di dalam TPS hanya satu orang. Semakin banyak orang menjadi saksi di TPS bukanlah semakin baik tapi semakin boros untuk pendanaan. Maka bisa diprediksi kualitas manajerial tim sukses paslon semacam ini.

Yan Herizal (Peneliti Politik)

Tidak Ada Tag